Kamis, 24 November 2011

Resesnsi The Bartimaeus Trilogy : The Amulet of Samarkand




Judul                     : The Bartimaeus Trilogy-The Amulet of Samarkand
Pengarang          : Jonathan Stround
Seri                        : Pertama
Halaman              : 511
Tebal                     : 2 cm
Penerbit              : Gramedia, Jakarta
Tahun terbit       : 2003

                The Bartimaeus Trilogy- Amulet of Samarkand adalah novel seri pertama karangan Jonathan Stround. Dalam menulis novel, Jonathan Stround yang telah menulis novel sejak berusia 7 tahun itu selalu memiliki imajinasi tentang hal-hal gaib. Maka, novel ini pun tak jauh-jauh dari masalah hal-hal gaib.

                Di dalam novel seri pertama “The Bartimaeus Trilogy” ini berkisah tentang kehidupan para penyihir di London. Namun, penyihir-penyihir disini bukanlah penyihir seperti toko-tokoh di novel Harry Potter yang dimana para penyihirnya melakukan sihir dengan sembunyi-sembunyi serta memakai tongkat dan topi kerucut. Justru sebaliknya, penyihir-penyihir disini ialah mereka yang hidup berdampingan dengan para non penyihir (commoner) dan bertindak sebagai pemegang kekuasaan pemerintah. Para penyihir disini juga beda dengan kisah tentang penyihir sebelumnya. Tetapi, para penyihir disini mendapatkan kekuatan sihir mereka dari para jin berbagai tingkatan yang melayani master mereka, bukan dari tongkat. Cara mereka mendapatkan pelayanan dari para jin ialah dengan memanggil para jin dari dunia jin dan secara resmi, penyihir pemanggil pun mendapatkan pelayanan pribadi dari jin tersebut. Caranya, mereka memaksa jin tersebut bekerja untuk mereka dengan cara yang agak kejam, yaitu dengan memberi mereka mantra yang menyakitkan sehingga jin tersebut harus mematuhi masternya.

                Cerita bermula ketika seorang anak berusia 5 tahun bernama Nathaniel dijual ke pemerintah untuk dididik menjadi penyihir sejati dan bisa menduduki jabatan di pemerintahan kelak. Ternyata, Nathaniel bukanlah satu-satunya anak yang dijual ke pemerintahan. Tetapi, ada puluhan anak yang diketahui memiliki bakat sihir sejak lahir yang harus dijual kepemerintah agar bisa dididik menjadi penyihir sejati.

                Untuk menjadi penyihir, Nathaniel diasuh oleh seorang penyihir dari kementrian dalam negri, Arthur Underwood. Masa-masa hidup Nathaniel untuk menjadi penyihir sangatlah berat. Sebab,  Underwood selalu meremehkan kemampuan Nathaniel. Selain itu, ia harus melupakan ingatannya tentang keluarganya dan juga harus membuang nama lahirnya dan menunggu untuk mendapatkan nama barunya diusianya yang keduabelas. Hal itu dilakukan agar kelak jin yang melayani Nathaniel tidak dapat menyakitinya. Sebab, disamping menjadi pelayan, para jin juga kadang berusaha menyakiti master mereka jika para jin itu tahu nama lahir master mereka.

                Konflik bermula ketika Nathaniel dipermalukan oleh salah seorang penyihir bernama Simon Lovelace hingga pingsan diusianya yang baru sebelas. Dan yang membuat Nathaniel sakit hati, ternyata gurunya sendiri tidak pernah menolongnya bahkan mengurungnya selama sebulan didalam kamar. Hal itu membuat Nathaniel tumbuh menjadi anak yang berusaha untuk mengandalkan dirinya sendiri dan berusaha untuk membalas perbuatan Simon Lovelace dengan cara memanggil jin berusia 5000 tahun  secara rahasia bernama Bartimaeus tanpa sepengetahuan gurunya disaat usianya baru sebelas tahun dan belum mendapatkan nama resmi. Bartimaeus diperintah untuk mencuri Amulet Samarkand milik Lovelace sementara Bartimaeus yang tidak suka diperintah berusaha mencari tahu nama lahir Nathaniel agar bisa memaksa  Nathaniel untuk membebaskannya kedunianya.

                Masalah berlanlanjut ketika Lovelace mengira Underwood lah yang mencuri Amuletnya dan berusaha membunuhnya beserta Nathaniel sementara Bartimaeus yang  berhasil mengetahui nama lahir Nathaniel memaksa Nathaniel untuk membebaskannya.

                Namun, dengan kecerdikannya, Jonatahn Stround berhasil mengubah konflik yang awalnya tegang dan diujung tanduk menjadi aman terkendali. Bartimaeus yang awalnya memiliki kesempatan untuk membunuh Nathaniel dan berkesempatan bebas kembali kedunianya malah berbalik harus melindungi Nathaniel dari pembunuhan Lovelace. Bersama, Nathaniel dan Bartimaeus berusaha menghentikan rencana Lovelace yang akan melakukan konspirasi besar-besaran dengan cara membunuh seratus penyihir di London menggunakan Amulet Samarkand.

                Agaknya, yang membuat novel ini sangat hidup dan segar untuk dibaca adalah tak lain karna karakter bartimaeus itu sendiri. Tokoh Bartimaeus yang licik namun humoris dan berlidah tajam mampu mengocok perut para pembacanya. Juga, di beberapa adegan yang dalam suasana menegangkan selalu berhasil dicairkan oleh komentar humoris dari Bartimaeus. Selain itu, para pembaca yang familiar dengan novel sihir pun pasti akan selalu penasaran seakan sulit berhenti untuk tidak membacanya.

                Satu-satunya hal membedakan antara novel ini dengan novel yang lain mungkin adalah didalam novel ini tersedia catatan kaki. Catatan kaki ini digunakan oleh Bartimaeus ntuk berkomunikasi dengan para pembaca untuk menjelaskan hal-hal penting. Tidak seperti catatan kaki yang lain, catatan kaki di novel ini benar-benar bisa membuat para pembaca terpingkal-pingkal (termasuk saya sendiri).

                Namun, tak ada gading yang tak retak. Novel ini memiliki sedikit sekali pesan moral. Agaknya, novel ini terkesan menceritakan keinginan Nathaniel untuk membuktikan dirinya penyihir sejati yang didampingi oleh Bartimaeus yang kocak. Endingnya pun bisa ditebak walaupun agak mengejutkan
  
                Selain itu, novel ini memang agak aneh. Selain alur ceritanya yang maju-mundur, sudut pandang novel ini menggunakan dua sudut panda tokoh utama, yaitu Nathaniel dan Bartimaeus itu sendiri. Hal ini mungkin akan membuat para pembacanya menjadi bingung untuk pertama kalinya. Tapi, pada bab ke sepuluh, para pembaca pastinya akan mulai mengerti dengan jalannya cerita.

               Didukung oleh cover yang sangat menarik, jujur saya langsung jatuh hati meskipun agak takut dengan ketebalan bukunya. Tapi, karna rasa penasaran yang kuat, langsung saja saya membacanya dan memang saya juga sempat bingung sebelum sampai di bab kesepuluh.

                Tetapi tetap saja novel ini layak untuk dibaca. Untuk yang sudah membaca novel ini nanti juga serasa tidak lengkap jika tidak memiliki ketiga serinya secara lengkap.
                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar